KODE ETIK BERBICARA DI DEPAN PUBLIK

Hidup tanpa etika terasa hampa karena seseorang akan hidup seenaknya. Tidak peduli dengan perasaan orang lain. Tidak peduli apakah sesuatu itu pantas dilakukan oleh seorang manusia. Tidak peduli perilakunya seperti binatang. Tentu saja keadaan seperti ini tidak hanya akan merendahkan derajat seorang manusia, tetapi juga merusak hubungan sosial dengan orang lain. 

Etika menjadikan seseorang lebih mulia. Etika juga membedakan antara manusia yang beradab dengan manusia yang biadab. Etika juga menjadi pembeda antara manusia dan binatang seyogyanya, etika diperlukan dalam semua profesi dan harus dipegang oleh semua orang tanpa terkecuali kapan dan di manapun. 

Untuk memperoleh keberhasilan, seseorang yang belajar untu memiliki etika yang baik. Menurut Fitria Zelfis (2016: 119), ada beberapa yang harus diperhatikan oleh seorang pembicara publik yaitu:

1. Anggun, Ramah, dan Sopan

Seorang pembicara publik harus tampak anggun, berwibawa, ramah, dan memperhatikan sopan santun.

Keramahan seorang pembicara publik tidak hanya ditujukan kepada audiens, tetapi terhadap semua orang yang ia temui dalam acara tersebut, seperti narasumber dan pihak-pihak yang terlibat dalam pengaturan panggung, konsumsi, dan sebagainya Seorang pembicara publik tidak boleh pelit senyum dan sapaan. Ia harus menjadi orang yang menyenangkan agar disukai semua orang yang terlibat dalam penyelenggaraan sebuah acara. 

Seorang MC yang berwajah angkuh, tinggi hati, dan berbuat seenaknya tidak akan memiliki karier dalam jangka panjang di pembicara publik. Menjadi pembicara publik berarti tampil di muka umum di depan banyak orang. Seorang pembicara publik akan menjadi pusat perhatian sehingga ia

dituntut menjadi orang yang memang bisa menarik dan menghipnotis semua orang yang menyaksikannya.

2. Lapang Hati Menerima Kritik

Tidak ada seorang pun yang steril dari sebuah kritik.

Sesempurna apa pun seseorang, tetap saja ada kelemahannya di mata orang lain. Hal ini lumrah mengingat setiap orang memiliki cara pikir sendiri. Setiap orang memiliki penilaian masing-masing yang hampir berbeda dengan orang lain.

Namun, ada orang yang memberikan kritik secara objektif. Orang ini memang menilai dan memberikan masukan bagi seseorang karena memang menurutnya orang tersebut perlu diberi tahu. Ia memberikan kritikan yang bertujuan untuk membuat seseorang semakin maju. Kritiknya bukan tanpa alasan, tetapi disertai bukti dan fakta-fakta pendukung.

Sementara itu ada pula orang memang suka mengkritik tanpa punya fakta dan bukti pendukung. Ia mengkritik karena menitikkan emosi dan pikirannya sendiri, seperti mungkin tidak senang atau tidak suka dengan orang tersebut. Ia mengkritik tidak secara objektif, tetapi berdasarkan pandangan dirinya sendiri (subjektif). 

Pengkritik yang seperti ini kadang bisa bersikap lebih nekat lagi dengan mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang lain dengan maksud menjatuhkan orang tersebut. Pengkritik yang seperti inilah yang sering menghancurkan seorang pembicara publik.

Seorang pembicara publik harus bisa menguasai diri bila berhadapan dengan pengkritik seperti itu karena orang seperti itu akan semakin senang dan bahagia bila targetnya kalah.

Sementara itu, seorang yang berhasil meraih keberhasilan, tidak pernah mengenal kalah sebelum bertanding. Mereka mampu menghadapi berbagai celaan orang asalkan ia tidak melakukan sesuatu yang fatal. 

Secara umum, orang tidak peduli kondisi untuk mengkritik. Tidak hanya ketika melakukan sebuah kesalahan, ketika melakukan kebaikan pun tetap seja orang akan mengomel.

Seorang pembicara publik harus bisa menerima sebuah kritikan yang objektif karena bisa memajukan dirinya. Begitu juga dengan kritikan subyektif, seorang pembicara publik harus menjadikan kritikan tersebut sebagai batu loncatan untuk maju.

Kritikan dari orang yang tidak beriktikad baik hanya menghalangi jalan. Meskipun kritikan tersebut membuat kita sakit hati, tetapi jangan sampai hal itu membuat kita tidak bisa berdiri kembali.

3. Menghindari Perdebatan dan Pertengkaran

Menurut Dale Carnegie, satu-satunya cara untuk memenangkan suatu perdebatan atau pertengkaran adalah dengan cara tidak berdebat. Ini benar. Sebagian orang berpikiran bahwa dengan tidak berdebat dan bertengkar dirinya akan kelihatan lebih gagah dan pintar. Namun, yang terjadi sebaliknya. Semakin seseorang bertengkar dan melakukan debat, maka akan kelihatan siapa dirinya.

Kebanyakan orang tidak menguasai perkataan dan emosinya ketika berdebat. Mereka terlibat perang mulut dan semakin agresif. Mereka ingin menunjukkan bahwa dirinyalah yang paling benar dan paling mengetahui semua hal. Meskipun hal yang diperdebatkan tidak selalu serius, mereka mencari pembenaran dengan menunjukkan bukti-bukti tertentu.

Perdebatan sering berujung pada pertengkaran dan permusuhan. Salah satu pihak ada yang merasa menang dan merasa pihak lainnya mengalami kekalahan.

Perdebatan dan pertengkaran akan menimbulkan efek negatif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.

Tanpa perdebatan dan pertengkaran hidup akan selalu penuh perdamaian, penuh ketulusan hati, penuh gairah, penuh kebenaran, serta penuh kejujuran hati. Dan yang jelas, orang-orang seperti itu jauh dari sifat-sifat buruk atau penyakit-penyakit hati lainnya.

Sebaliknya perdebatan membuat hati terasa tidak nyaman dan gelisah. Dada terasa panas dan napas tidak teratur.

Berdebat sering melibatkan emosi yang kuat sehingga akan memengaruhi kesehatan. Apalagi kalau seseorang merasa kalah dalam perdebatan. Perdebatan juga akan merusak suasana dan hubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, seorang pembicara publik seperti MC harus sadar dalam memposisikan dirinya. Seorang MC jangan sampai terlibat sebuah perdebatan karena hal ini bisa merugikan dirinya sendiri.

4. Tidak Menyinggung Perasaan Orang Lain

Tidak ada orang yang bisa diajak kerja sama dan berhubungan baik bila kita telah melukai dirinya. Oleh karena itu jika kita ingin dihargai dan memiliki hubungan serta kerja sama yang baik dengan orang lain, maka jagalah harga dirinya.

Jangan sampai kita membuatnya merasa dilecehkan atau direndahkan. Harga diri merupakan salah satu hal penting bagi semua orang. Orang akan bersikap tegas dan keras bila harga dirinya sudah diinjak-injak. Mereka tidak segan-segan melakukan hal-hal yang mungkin jarang mereka lakukan seperti memukul. Membunuh, dan sebagainya. Hal ini karena mereka benar-benar sakit hati.

Bagaimanapun, dihina oleh orang lain akan membuat orang merasa harkat dan martabatnya telah jatuh. Ia merasa malu dan rendah diri karena diperlakukan dengan tidak baik. Ketika mengalami hal seperti ini, orang yang pendiam akan bersuara lantang. Orang yang lemah akan menjadi kuat karena menurutnya harga diri itu perlu ditegakkan. Menyinggung perasaan orang lain hanya akan menciptakan permusuhan dan ketidaknyamanan.

Kapan dan di mana pun, seorang pembicara publik harus bisa menjaga perasaan orang lain. Dale Carnegie mengatakan bahwa seseorang jangan sampai menyinggung perasaan orang lain. Ketika sering tidak memikirkan dan tidak menghiraukan perasaan orang lain. Di sini kita menyalahkan, di sana kita mengancam. Sebagian orang kadang merasa lebih superior dengan segala kelebihan yang ia miliki sehingga ia tidak memikirkan dampak ketika ia menyakiti orang lain. Memang ada orang yang tidak memikirkan bagaimana perasaan orang lain. Mereka ini orang yang egois dan ingin menang sendiri.

Akan tetapi seorang pembicara publik tidak boleh seperti ini.

Salah satu cara orang untuk meminimalisasi sikap menyakiti adalah dengan membayangkan kalau dirinya yang menjadi orang tersebut. Merasakan sakit yang dialami orang lai ketika disakiti. Ini akan membuat seseorang berpikir panjang sebelum menyinggung perasaan orang lain.

5. Beberapa Etika Lainnya

Selain hal di atas, ada beberapa hal lagi yang harus diperhatikan terkait etika seorang pembicara publik:

Pertama, jangan lupa waktu. Seorang pembicara publik diberikan durasi waktu untuk tampil. Misalnya sebagai MC, jangan sampai MC lupa waktu sehingga acara berjalan tidak lancar dan tidak sesuai dengan yang telah dijadwalkan.

Kedua, tentang membacakan susunan acara. Seorang MC harus bisa membedakan kapan ia membacakan susunan acara dan kapan tidak. Terdapat perbedaan antara acara resmi (formal) dan non formal. Biasanya, susunan acara dibacakan pada saat acara resmi dan untuk acara tidak resmi tidak perlu dibacakan susunan acaranya.

Ketiga, tempat duduk yang pas. Seorang MC harus memperhatikan di mana tempat duduk yang sesuai untuk dirinya. Jangan sampai seorang MC duduk sangat jauh dan membutuhkan waktu lama untuk ke panggung. Harus juga diperhatikan akan duduk di samping siapa. Jangan sampai MC mengambil tempat duduk yang salah karena bagaimanapun MC bukan seorang tamu atau narasumber.

Keempat, kalau nara narasumber seperti pejabat pemerintahan atau instansi tertentu yang memberikan sambutan, maka MC sebaiknya tidak berkomentar tentang isi sambutan tersebut agar keresmian sebuah acara tetap terjaga.

Kelima, cara naik panggung. Cara MC naik panggung harus diperhatikan sesuai dengan acaranya. Bagaimanapun audiens akan menilai MC sejak dari pertama ia mulai melangkah ke panggung. Audiens akan memperhatikan kapan gerak-gerik seorang MC.

Keenam, mengetahui kapan meninggalkan mik, ketika MC telah mempersilahkan seorang narasumber untuk memberikan sambutannya. MCV sebaiknya meninggalkan mik sebagai pertanda ia telah memberikan kekuasaan sepenuhnya kepada narasumber untuk menyampaikan sambutannya.

Ketujuh, ketika megambil mik dan hendak berbicara, seorang MC sebaiknya tidak meniup dan memukul-mukul mik.

Tindakan ini agak kurang baik karena menunjukkan kekurangformalan. Selain itu dengan tidak meniup dan memukul mik, maka seseorang lebih kelihatan profesinal. Tidak asing bagi sebagian kita melihat seorang MC yang menggosok-gosok, meniup, bahkan memukul mik. Mungkin ada alasan mengapa MC berbuat begitu, tetapi tetap saja kurang enak disaksikan audiens.

Kedelapan, ketika seseorang mempersilahkan seorang narasumber memberikan kata sambutan, maka sebaiknya acara dilanjutkan setelah narasumber tersebut sampai di tempat duduknya. Jangan sampai seorang MC sudah melanjutkan acara berikutnya, tetapi narasumber masih dalam perjalanan menuju tempat duduknya.

Kesembilan, hari-hati jangan sampai tertawa lepas. Tertawa memang penting dan bisa memberikan dorongan positif. Namun, seorang MC harus melihat keadaan dulu. Satu hal yang jelas, seorang MC tidak seharusnya tertawa terbahak-bahak di depan audiens. Ini bisa menghilangkan pesona dan wibawa seorang MC. Dengan sikap seperti ini, bisa saja MC tidak dihargai oleh audiens lagi karena dianggap kurang sopan.

Kesepuluh, mengatur sikap kepada peliput acara. Memang tidak mungkin dipungkiri bahwa MC profesional akan memandu sebuah acara yang mungkin sedikit lebih spektakuler, yang mana akan ada jurnalis meliput acara tersebut. Jika memungkinkan, maka MC busa memberikan kesempatan kepada awak media untuk meliput cara atau gambar dengan cara yang sopan dan juga tidak merugikan panitia.

Kesebelas, tidak guyon di sembarang tempat. Ada MC yang kadang lupa dia berasa di mana. Kebiasaannya yang suka bercanda terbawa-bawa dan secara refleks terjadi ketika ia sedang memandu sebuah cara formal. Tentunya tidak bagus menyaksikan seorang MC yang becanda tanpa aturan.

Kedua belas, jika MC menggunakan catatan kecil, maka seorang MC harus berusaha agar kertas tersebut tidak kelihatan mencolok dan tidak mengganggu pemandangan audiens. Hal ini juga bisa mengalihkan fokus audiens.

Berkaitan dengan kritik, Fitria Zelfis (2016: 122) menyarankan untuk lapang hati menerima kritik. Tidak ada seorang pun yang steril dari sebuah kritik. Sesempurna apa pun seseorang tetap saja ada kelemahannya di mata orang lain. Hal ini lumrah mengingat setia orang memiliki cara pikir tersendiri.

Setiap orang memiliki penilaian masing-masing yang hampir berbeda dengan orang lain. Namun, ada orang yang memberikan kritik secara objektif. Orang ini memang menilai dan memberikan masukan bagi seseorang karena memang menurutnya orang tersebut perlu diberi tahu. Ia memberikan kritikan yang bertujuan untuk membuat seseorang semakin maju.

Kritikannya bukan tanpa alasan, tetapi disertai oleh bukti dan fakta-fakta pendukung. Sementara itu, ada pula orang memang suka mengkritik tanpa punya fakta dan bukti pendukung. Ia mengkritik karena menurutkan emosi dan pikirannya sendiri, seperti tidak senang atau tidak suka dengan orang tersebut. Ia mengkritik tidak secara objektif, tetapi berdasarkan pandangan dirinya sendiri. Pengkritik yang seperti ini kadang bisa bersikap lebih nekat lagi dengan mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang lain dengan maksud menjatuhkan orang tersebut. Pengkritik yang seperti inilah yang sering menghancurkan seorang pembicara publik.

Seorang pembicara public harus bisa menguasai diri bila berhadapan dengan pengkritik seperti itu karena orang seperti itu akan semakin senang dan bahagia bila targetnya kalah.

Sementara itu, seorang yang berhasil meraih kesuksesan, tidak pernah mengenal kalah sebelum bertanding. Mereka mampu menghadapi berbagai celaan orang asalkan ia tidak melakukan sesuatu yang fatal. Secara umum, orang tidak peduli kondisi untuk mengkritik. Tidak hanya ketika melakukan sebuah kesalahan, ketika melakukan kebaikan pun tetap saja orang akan ngomel.

Seorang pembicara publik harus bisa menerima sebuah kritikan yang objektif karena bisa memajukan dirinya. Begitu juga dengan kritik subjektif, seorang pembicara public harus menjadikan kritikan tersebut sebagai batu loncatan untuk maju.

Kritikan dari orang yang tidak beriktikad baik hanya akan menghalangi jalan. Meskipun kritikan tersebut membuat kita sakit hati, tetapi jangan sampai hal itu membuat kita tidak bisa berdiri kembali.

0 Response to "KODE ETIK BERBICARA DI DEPAN PUBLIK"

Post a Comment

Terima Kasih Atas Kunjungannya, Silahkan Berkomentar dengan Bijak