AKHLAK DAN ETIKA DALAM ISLAM

Banyak kita lihat generasi sekarang sudah kurang memperhatikan bagaimana mengimplementasikan akhlak yang mulia dalam pergaulan sehari-hari.

Akhlak dan etika merupakan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari yang telah melekat pada diri seseorang. 
AKHLAK DAN ETIKA DALAM ISLAM

Akhlak menyangkut hal yang berhubungan dengan perbuatan baik, buruk, benar dan salah dalam tindakan seseorang manusia yang panutannya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam.

Sedangkan etika yang bersumber dari hasil budaya dan adat istiadat suatu tempat yang berlaku dalam suatu masyarakat. 

Dalam tulisan ini penulis membahas tentang pengertian akhlak dan etika, hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam sekitarnya. 

Pembagian akhlak dalam tulisan ini menyangkut: 

1. Akhlak terhadap Allah ubahanahu wata'ala. 
2. Akhlak terhadap Rasulullah. 
3. Akhlak terhadap diri sendiri. 
4. Akhlak terhadap keluarga. 
5. Akhlak terhadap masyarakat. 
6.Akhlak terhadap tetangga.

Pengertian Akhlak dan Etika

Akhlak berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradatnya“khuluqun” yang berari budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. 

Sedangkan menurut istilah adalah pengetahuan yang menjelaskan tentang baik dan buruk (benar dan salah), mengatur pergaulan manusia, dan menentukan tujuan akhir dari usaha dan pekerjaannya.

Akhlak pada dasarnya melekat dalam diri seseorang, bersatu dengan perilaku atau perbuatan. Jika perilaku yang melekat itu buruk, maka disebut akhlak yang buruk atau akhlak mazmumah. Sebaliknya, apabila perilaku tersebut baik disebut akhlak mahmudah.

Selain akhlak digunakan pula istilah etika dan moral. Etika berasal dari bahasa yunani “ethes ’’ artinya adat. 

Etika adalah ilmu yang meyelidki baik dan buruk dengan memperhatikan perbuatan manusia sejauh yang diketahui oleh akal pikiran. 

Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin “ mores ” yang berarti kebiasaan. Persamaan antara akhlak dengan etika adalah keduanya membahas masalah baik dan buruk tingkah laku manusia. 

Perbedaannya terletak pada dasarnya sebagai cabang filsafat, etika bertitik tolak dari pikiran manusia. 

Sedangkan akhlak berdasarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Akhlak tidak terlepas dari aqidah dan syariah. 

Oleh karena itu, akhlak merupakan pola tingkah laku yang mengakumulasikan aspek keyakinan dan ketaatan sehingga tergambarkan dalam perilaku yang baik.

Akhlak merupakan perilaku yang tampak ( terlihat ) dengan jelas, baik dalam kata-kata maupun perbuatan yang memotivasi oleh dorongan karena Allah. 

Namun demikian, banyak pula aspek yang berkaitan dengan sikap batin ataupun pikiran, seperti akhlak diniyah yang berkaitan dengan berbagai aspek, yaitu pola perilaku kepada Allah, sesama manusia, dan pola perilaku kepada alam.

Akhlak islam dapat dikatakan sebagai aklak yang islami adalah akhlak yang bersumber pada ajaran Allah dan Rasulullah. 

Akhlak islami ini merupakan amal perbuatan yang sifatnya terbuka sehingga dapat menjadi indikator seseorang apakah seorang muslim yang baik atau buruk. 

Akhlak ini merupakan buah dari akidah dan syariah yang benar. Secara mendasar, akhlak ini erat kaitannya dengan kejadian manusia yaitu khaliq ( pencipta ) dan makhluq ( yang diciptakan ). 

Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia yaitu untuk memperbaiki hubungan makhluq ( manusia ) dengan khaliq (Allah Ta’ala) dan hubungan baik antara makhluq dengan makhluq. 

Kata “menyempurnakan ” berarti akhlak itu bertingkat, sehingga perlu disempurnakan. Hal ini menunjukan bahwa akhlak bermacam-macam, dari akhlak sangat buruk, buruk, sedang, baik, baik sekali hingga sempurna. 

Rasulullah sebelum bertugas menyempurnakan akhlak, beliau sendiri sudah berakhlak sempurna. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Surah Al-Qalam[68]: 4 :

Artinya :“ Dan sesungguhnya engkau ( Muhammad ) benar-benar berbudi pekerti yang agung 

”Dalam ayat diatas, Allah Sbhanahu wata'ala. sudah menegaskan bahwa Nabi Muahammad Salallau 'alaihi wasallam. mempunyai akhlak yang agung. 

Hal ini menjadi syarat pokok bagi siapa pun yang bertugas untuk memperbaiki akhlak orang lain. Logikanya, tidak mungkin bisa memperbaiki akhlak orang lain kecuali dirinya sendiri sudah baik akhlaknya.

Karena akhlak yang sempurna itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam patut dijadikan uswah al- hasanah ( teladan yang baik ). Firman Allah Swt dalam surah Al-Ahzab [33] : 21 :

Artinya :“Sesungguhya pribadi Rasulullah merupakan teladan yang baik untuk kamu dan untuk orang yang mengharapkan menemui Allah dan hari akhirat dan mengingat Allah sebanyak-banyaknya”.

Berdasarkan ayat di atas, orang yang benar-benar ingin bertemu dengan Allah dan mendapatkan kemenangan di akhirat, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam adalah contoh dan teladan yang paling baik untuknya.

Tampak jelas bahwa akhlak itu memiliki dua sasaran : 

  1. Akhlak denganAllah. 
  2. Akhlak dengan sesama makhluk. 

Oleh karena itu, tidak benar kalau masalah akhlak hanya dikaitkan dengan masalah hubungan antara manusia saja.

Atas dasar itu, maka benar akar akhlak adalah akidah dan pohonya adalah syariah. Akhlak itu sudah menjadi buahnya. 

Buah itu akan rusak jika pohonnya rusak, dan pohonnya akan rusak jika akarya rusak. Oleh karena itu akar, pohon, dan buah harus dipelihara dengan baik.

Bagi Nabi Muhammad Sholallahu 'alaihi wassallam, Al-Qur’an sebagai cerminan berakhlak. Orang yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, maka sudah termasuk meneladani akhlak Rasulullah. 

Oleh karena itu setiap mukmin hendaknya selalu membaca Al-Qur’an kapan ada waktunya sebagai pedoman dan menjadi tuntunan yang baik dalam berperilaku sehari-hari, insya Allah akan terbina akhlak yang mulia bagi dirinya.

Adapun hal-hal yang perlu dibiasakan sebagai akhlak yang terpuji dalam islam, antara lain :

1. Berani dalam kebaikan, berkata benar serta menciptakan manfaat, baik bagi diri maupun orang lain.
2. Adil dalam memutuskan hukum tanpa membedakan kedudukan, status sosial ekonomi, maupun kekerabatan.
3. Arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan.
4. Pemurah dan suka menafkahkan rezeki baik ketika lapang maupun sempit.
5. Ikhlas dalam beramal semata-mata demi meraih ridha Allah.
6. Cepat bertobat kepada Allah ketika berdosa.
7. Jujur dan amanah. 
8. Tidak berkeluh kesah dalam menghadapi masalah hidup.
9. Penuh kasih sayang.
10. Lapang hati dan tidak balas dendam
11. Malu melakukan perbuatan yang tidak baik.
12. Rela berkorban untuk kepentingan umat dan dalam membela agama Allah.

Sabda Rasul tentang Akhlak

Hadits-hadits Nabi Sholallahu 'alaihi wassallam. demikian beragam berbicara tentang akhlak. Terkadang berisi perintah dan anjuran untuk berhias dengan akhlak yang terpuji dalam bergaul dengan manusia. 

Ada kalanya beliau menyebut besarnya pahala akhlak mulia dan beratnya pahala akhlak dalam timbangan. Pada kesempatan yang lain, beliau memperingatkan manusia dari akhlak yang buruk dantercela.

Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ashz meriwayatkan bahwa Rasululullah Shallallahu 'alaihi wassallam pernah bersabda: akhlaknya baik paling yang adalah kalian antara di terbaik yang Sesungguhnya 

“ إِ نَّ مِنْ أَخْیَرِ كُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا

” (HR. al-Bukhari, 10/378 dan Muslim no. 2321)

Dalam hadits lain, Rasulullah berpesan kepada Abu Dzar al-Ghifari dan Mu’adz bin Jabal untuk bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik dalam sabda beliau:

اتَّقِ اللهَ حَیْثُ مَا كُنْتَ وَ أَتْبِعِ السَّیِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُھَا وَ خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada. Iringilah kesalahanmu dengan kebaikan, niscaya ia dapat menghapusnya. Dan pergaulilah semua manusia dengan akhlak (budi pekerti) yang baik.”(HR. at-Tirmidzi no. 1987, beliau mengatakan, “Hadits ini hasan.”

Rasululullah mengabarkan pula bahwa akhlak yang baik mampu mengejar amalan ahli ibadah. Dalam sebuah hadits Aisyah Ummul Mukminin berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik akan mencapai derajat orang yang selalu shalat dan berpuasa.” (HR. Abu Dawud no. 4798, disahihkan oleh al-Albani)

Ummu ad-Darda’ meriwayatkan dari suaminya, Abu ad-Darda’, Rasulullah saw pernah bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam al-mizan (timbangan) dari pada akhlak yang baik.” ( H.R. Abu Dawud disahihkan oleh al-Albani )

Akhlak yang baik adalah sebab seseorang memperoleh derajat yang tinggi di jannah Allah Subhanahu wata'ala. Sebaliknya, akhlak yang buruk adalah sebab seseorang terhalangi dari kenikmatan jannah.

Dari Abu Umamah , dia berkata, Rasulullah Sholallahu 'alaihi wassallam bersabda :

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku memberikan jaminan dengan sebuah rumah di tepi jannah bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berhak. Aku juga memberikan jaminan dengan sebuah rumah di tengah jannah bagi yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam senda gurau. Aku juga menjanjikan sebuah rumah di jannah tertinggi bagi yang membaguskan akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)

Dari al-Haritsah bin Wahb, ia berkata, Rasulullah bersabda :

لاَ یَدْخُلُ الْجَنَّةْ الَجوَّاظُ، وَلَا الْجَعْظَرِيُّ

“Tidak akan masuk jannah orang yang kasar dan kaku.” (HR. at-Tirmidzi)

Pembagian Akhlak

1. Akhlak Terhadap Allah Subhanahu wata'ala.

Akhlak yang baik kepada Allah berucap dan bertingkah laku yang terpuji terhadap Allah Subanahu wata'ala.

Baik melalui ibadah langsung kepada Allah, seperti shalat, puasa dan sebagainya, maupun melalui perilaku-perilaku tertentu yang mencerminkan hubungan atau komunikasi dengan Allah diluar ibadah itu.

Allah Subhanahu wata'ala telah mengatur hidup manusia dengan adanya hukum perintah dan larangan.

Hukum ini, tidak lain adalah untuk menegakkan keteraturan dan kelancaran hidup manusia itu sendiri. Dalam setiap pelaksanaan hukum tersebut terkandung nilai-nilai akhlak terhadap Allah Swt.

Berikut ini beberapa akhlak terhadap Allah Suhanahu wata'ala :

1. Beriman, 

Beriman yaitu meyakini wujud dan keesaan Allah serta meyakini apa yang difirmankan-Nya, seperti iman kepada malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari kiamat dan qadha dan qadhar. Beriman merupakan fondamen dari seluruh bangunan akhlak islam.

Jika iman telah tertanam didada, maka ia akan memancar kepada seluruh perilaku sehingga membentuk kepribadian yang menggambarkan akhlak islam yaitu akhlak yang mulia.

2. Taat, 

Taat yaitu patuh kepada segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sikap taat kepada perintah Allah merupakan sikap yang mendasar setelah beriman, ia merupakan gambaran langsung dari adanya iman di dalam hati.

3. Ikhlas,

Ikhlas yaitu melaksanakan perintah Allah dengan pasrah tanpa mengharapkan sesuatu, kecuali keridhaan Allah. Jadi ikhlas itu bukan tanpa pamrih.

Tetapi pamrih hanya diharapkan dari Allah berupa keridhaan-Nya. Oleh karena itu, dalam melaksanakannya harus menjaga akhlak sebagai bukti keikhlasan menerima hukum-hukum tersebut.

4. Khusyuk, 

Khusuk yaitu bersatunya pikiran dengan perasaan batin dalam perbuatan yang sedang dikerjakannya atau melaksanakan perintah dengan sungguh-sungguh. 

Khusyuk melahirkan ketenangan batin dan perasaan pada orang yang melakukannya. Karena itu, segala bentuk perintah yang dilakukan dengan khusyuk melahirkan kebahagiaan hidup.

Ciri-ciri Khusyu’ yaitu adanya perasaan nikmat ketika melaksanakannya. Shalat perlu dilakukan dengan khusyu’. Jika orang melakukan shalat tetapi belum khusyu’. 

Agar khusyu’ dalam shalat, sejak niat kita harus sunguh-sungguh hanya terpusat pada perbuatan yang berkaitan dengan shalat. 

Apa yang dibacakan oleh lidah, dimaknai oleh pikran, diresapi oleh hati dan difokuskan pada Allah yang sedang kita hadapi.

5. Huznudz dzan,

Huznudz dzan yaitu berbaik sangka kepada Allah. Apa saja yang diberikan-Nya merupakan pilihan yang terbaik untuk manusia. 

Berprasangka baik kepada Allah merupakan gambaran harapan dan kedekatan seseorang kepada-Nya, sehingga apa saja yang diterimanya dipandang sebagai suatu yang terbaik bagi dirinya. 

Oleh karena itu, seorang yang huznuzan tidak akan mengalami perasaan kecewa atau putus asa yang berlebihan.

6. Tawakal

Tawakal, yaitu mempercayakan diri kepada Allah dalam melaksanakan suatu rencana. Sikap tawakal merupakan gambaran dari sabar dan menggambarkan kerja keras dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan suatu rencana. 

Apabila rencana tersebut menghasilkan keinginan yang diharapkan atau gagal dari harapan yang semestinya, ia akan mampu menerimanya tanpa penyesalan.

7. Syukur

Syukur, yaitu mengungkapkan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan-Nya. Ungkapan syukur dilakukan dengan kata-kata dan perilaku. 

Ungkapan dalam bentuk kata-kata adalah mengucapkan hamdalah setiap saat, sedangkan bersyukur dengan perilaku dilakukan dengan cara menggunakan nikmat Allah sesuai dengan semestinya. 

Misalnya nikmat diberi mata,maka bersyukur terhadap nikmat itu dilakukan dengan menggunakan mata untuk melihat hal-hal yan baik, seperti membaca, mengamati alam dan sebagainya yang mendatangkan manfaat.

8. Sabar

Sabar, yaitu ketahanan mental dalam menghadapi kenyataan yang menimpa diri kita. Ahli sabar tidak akan mengenal putus asa dalam menjalankan ibadah kepada Allah Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. 

Oleh karena itu, perintah bersabar bukan perintah berdiam diri, tetapi perintah untuk terus berbuat tanpa berputus asa.

9. Bertasbih

Bertasbih, yaitu mensucikan Allah dengan ucapan, yaitu dengan memperbanyak mengucapkan subhanallah ( maha suci Allah ) serta menjauhkan perilaku yang dapat mengotori nama Allah Yang Maha Suci.

10. Istighfar

Istighfar, yaitu meminta ampun kepada Allah atas segala dosa yan perna dibuat dengan mengucapkan “ astagfirullahal ‘adzim ’’ (aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung ). 

Sedangkan istighfar melalui perbuatan dilakukan dengan cara tidak mengulangi dosa atau kesalahan yan telah dilakukan.

11. Takbir

Takbir, yaitu mengagungkan Allah dengan membaca Allahu Akbar ( Allah Maha Besar).Mengagungkan Allah melalui perilaku adalah mengagungkan nama-Nya dalam segala hal, sehingga tidak menjadikan sesuatu melebihi keagunggan Allah. 

Tidak mengagungkan yang lain melampaui keagunggan Allah dalam berbagai konsep kehidupan, baik melalui kata-kata maupun dalam tindakan.

12. Do’a

Do’a, yaitu meminta kepada Allah apa saja yang diinginkan dengan cara yang baik sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. 

Do’a adalah cara membuktikan kelemahan manusia dihadapan Allah, karena itu berdoa merupakan inti dari beribadah.

Orang yang tidak suka berdo’a adalah orang yang sombong, sebab ia tidak mengakui kelemahan dirinya dihadapan Allah, merasa mampu dengan ushanya sendiri. 

Ia tidak sadar bahwa semua itu berkat izin dari Allah. Jadi, doa merupakan etika bagi seorang hamba dihadapan Allah Subhanahu wata'ala. 

Firman Allah sebagai berikut:

Artinya; “Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka jahannam dalam keadaan hina dina ”. ( Q.S.Ghafur : 60 )

Akhlak Terhadap Rasulullah Sholallahu 'alaihi wassallam

Rasulullah adalah manusia yang paling mulia akhlaknya. Beliau sangat dermawan paling dermawan diantara manusia. 

Beliau sangat menghindari perbuatan dosa, sangat sabar, sangat pemalu melebihi gadis pingitan, berbicara sangat fasih dan jelas.

Beliau sangat pemberi, beliau juga jujur dan amanah, sangat tawadhu’, tidak sombong, tepati janji, penyayang, lembut, suka memaafkan, dan lapang dada. 

Beliau mencintai orang miskin dan duduk bersama mereka, beliau banyak diam dan tawa beliau adalah senyuman.

Oleh sebab itu sepatutnya kita meneladani akhlak rasulullah. Berakhlak kepada rasulullah dapat diartikan suatu sikap yang harus dilakukan manusia kepada Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam. sebagai rasa terima kasih atas perjuangannya membawa umat manusia ke jalan yang benar.

Berakhlak kepada Rasullullah perlu kita lakukan atas dasar :

1. Rasullulla Shallallahu 'alaihi wassallam sangat besar jasanya dalam menyelamatkan manusia dari kehancuran. Beliau banyak mengalami penderitaan lahir batin, namun semua itu diterima dengan ridha.

2. Rasulullah sangat berjasa dalam membina akhlak yang mulia. Pembinan ini dilakukan dengan memerikan contoh teladan yang baik kepada umat manusia.

3. Rasulullah berjasa dalam menjelaskan Al-Qur’an kepada manusia sehingga jelas dan mudah dilaksanakan. Allah berfirman :

Artinya :“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya, mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. ( Q.S. Al- Jumu’ah : 2 )

4. Rasulullah telah mewariskan hadits yang penuh dengan ajaran yang sangat mulia dalam berbagai bidang kehidupan.

Cara Berakhlak Kepada Rasulullah Sholallahu 'alaihi wassallam :

1. Ridha dan beriman kepada Rasulullah.

Ridha dan beriman kepada rasulullah merupakan sesuatu yang harus kita nyatakan. Kita mengakui kerasulannya dan menerima segala ajaran yang disampaikannya.

2. Mentaati dan mengikuti Rasulullah.

Mentaati dan mengikuti Rasulullah merupakan sesuatu yang bersifat mutlak bagi orangorang yang beriman. Allah Subhanahu wata'ala. akan menempati orang-orang yang mentaati Allah dan Rasul kedalam derajat yang tinggi dan mulia. 

Disamping itu juga dicintai Allah Subhanah wata'ala sehingga Allah mudah mengampuni dosa orang-orang yang mentaati Allah dan Rasul. Barang siapa yang mentaati Rasul berarti juga mentaati Allah Subhanahu wata'ala.

3. Mencintai dan memuliakan Rasulullah.

Keharusan yang harus kita tunjukkan dalam akhlak yang baik kepada rasul adalah mencintai beliau dan ahlul baitnya setelah kecintaan kita kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Sebagaimana Rasulullah bersabda :

“Tidak beriman salah seorang dari mu, apabila ia tidak mencintaiku melebihi dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya dan manusia semuanya” . ( H.R. Bukhari Muslim )

“Barang siapa mencintai ahlul baitku, berarti mencintai aku, mencintai aku, berarti mencintai Allah”. (H.R. Bukhari Muslim).

Terbukti umat Islam seluruh dunia didalam shalat lima waktu sehari semalam dalam duduk tahyat terakhir mengucapkan: “ Allahumma shalli a’laa Muhammad wa’ala ali Muhammad”.

4. Mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah.

Mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah merupakan sebagai tanda ucapan terima kasih dan sukses dalam perjuangannya. Rasulullah bersabda :

“ Orang yang kikir ialah orang yang menyebut namaku, tetapi ia tidak bershalawat kepada ku ” . ( H.R. Ahmad )

“ Barang siapa yang bershalawat kepada ku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali shalawat ”. ( H.R. Ahmad )

“ Sesungguhnya orang yang paling dekat dengan ku pada hari kiamat, ialah orang yang paling banyak bershalawat kepada ku ”. ( H.R.Tirmidzi )

5. Melanjutkan misi Rasulullah.

Misi Rasulullah adalah menyebarluaskan dan menegakkan nilai-nilai islam. Dan inilah tugas kita selanjutnya sebagai seorang muslim. Sebagaimana sabda Rasulullah Sholallau 'alaihi wassallam :

“Sampaikanlah dari ku walau hanya satu ayat, dan ceritakanlah tentang bani israil tidak ada larangan. Barangsiapa berdusta atas ( nama ) ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dineraka”. ( H.R. Ahmad,Bukhari dan Tarmidzi dari Ibnu Umar )

6. Akhlak Terhadap Diri Sendiri

Islam mengajarkan agar manusia menjaga diri meliputi jasmani dan rohani. Organ tubuh kita harus dipelihara dengan memberikan konsumsi makanan yang halal dan baik. 

Apabila kita memakan makanan yang tidak halal dan tidak baik, berarti kita telah merusak diri sendiri. 

Akal kita juga perlu dipelihara dan dijaga agar tertutup oleh pikiran kotor. Jiwa harus disucikan agar menjadi orang yang beruntung. Sebagaimana Firman Allah dalam Q.S Asy - Syam [91] : 9-10 :

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. Kemudian menahan pandangan dan memelihara kemaluan juga termasuk berakhlak terhadap diri sendiri. 

Sebagaimana Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya sebilangan ahli neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tapi yang telanjang yang condong kepada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya”. ( H.R.Bukhari dan Muslim )

“Bahwa anak perempuan apabila telah cukup umurnya, maka mereka tidak boleh dilihat akan dia melainkan mukanya dan kedua telapak tangannya hingga pergelangan” (H.R. Abu Daud)

Memang berat untuk mengenakan busana Muslimah yang baik dan sesuai ajaran Islam.

Karena mungkin busana muslim yang baik itu seperti ibu-ibu, tidak modis, tidak seksi, dan sebagainya tetapi itulah yang benar. 

Dan pada saat ini sudah banyak busana muslim yang baik dan tetap terlihat modis dan anggun.Tetapi juga harus diingat jangan berlebihan. 

Ajaran islam tentang menjaga kehormatan diri baik laki-laki maupun perempuan ini sungguh suci dan mulia. Tidak ada ajaran agama lain yang mengatur demikian cermatnya. 

Jika ini dilaksanakan, tidak mungkin ada perzinaan, prostitusi, dan perselingkuhan suami istri. Orang Islam tidak boleh hina dina, tetapi sebaliknya harus suci dan mulia. 

Berakhlak Terhadap Diri Sendiri antara lain :

  1. Setia ( al-Amanah ), yaitu sikap pribadi yang setia, tulus hati dan jujur dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya, baik berupa harta, rahasia, kewajiban, atau kepercayaan lainnya.
  2. Benar ( as-Shidqatu ), yaitu berlaku benar dan jujur baik dalam perkataan maupun perbuatan.
  3. Adil ( al-‘adlu ), yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya.
  4. Memelihara kesucian ( al-Ifafah ), yaitu menjaga dan memelihara kesucian dan kehormatan diri dari tindakan tercela, fitnah dan perbuatan yang dapat mengotori dirinya.
  5. Malu ( al-Haya ), yaitu malu terhadap Allah dan diri sendiri dari perbuatan melanggar perintah Allah
  6. Keberanian ( as-Syajaah ), yaitu sikap mental yang menguasai hawa nafsu dan berbuat semestinya.
  7. Kekuatan ( al-Quwwah ), yaitu kekuatan fisik, jiwa atau semangat dan pikiran atau kecerdasan.
  8. Kesabaran ( ash-Shabrul ), yaitu sabar ketika ditimpa musibah dan dalam mengerjakan sesuatu.
  9. Kasih Sayang ( ar-Rahman ), yaitu sifat mengasihi terhadap diri sendiri, orang lain dan sesama makhluk.
  10. Hemat ( al-iqtishad ) yaitu tidak boros terhadap harta, hemat tenaga dan waktu.

Akhlak Terhadap Keluarga

Akhlak terhadap keluarga meliputi ayah, ibu, anak, dan keturunannya. Kita harus berbuat baik kepada anggota keluarga terutama orang tua. Ibu yang telah mengandung kita dalam keadaan lemah, menyusui dan mengasuh kita memberikan kasih sayang yang tiada tara. 

Ketika kita lapar, tangan ibu yang menyuapi, ketika kita haus, tangan ibu yang memberi minuman. Ketika kita menangis, tangan ibu yang mengusap air mata. Ketika kita gembira, tangan ibu yang menadah syukur, memeluk kita erat dengan deraian air

mata bahagia. Ketika kita mandi, tangan ibu yang meratakan air ke seluruh badan,membersihkan segala kotoran. Tangan ibu, tangan ajaib, sentuhan ibu, sentuhan kasih, dapat membawa ke Surga Firdaus.

Begitu juga ayah dialah sosok seorang pria yang hebat dalam hidup yang telah menafkahi kita tanpa memperdulikan panasnya terik matahari, maut yang akan menghadang demi anak apapun akan dilakukan. 

Mendidik kita tanpa lelah meski terkadang kita melawan perintahnya ia tak pernah bosan memberi yang terbaik agar anaknya selamat dunia dan akhirat, menyekolahkan anaknya hingga sukses. Tak pernah lupa dalam doa mereka untuk kita. 

Begitulah perjuangan orang tua maka sudahkah kita berbakti, mendoakan mereka disetiap selesai shalat, ingat kepada mereka setiap saat, maka sepatutnya lah kita patuh kepada kedua mereka dalam hidup kita ini. Firman Allah :

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susahpayah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). 

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: 

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; 

Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." ( Q.S Al-Ahqaf :15 )

Akhlak Terhadap Orang Tua antara lain :

1. Mencintai mereka melebihi rasa cinta kita terhadap kerabat yang lain.
2. Lemah lembut dalam perkataan dan perbuatan
3. Merendahkan diri di hadapannya.
4. Berdoa kepada mereka dan meminta doa kepada mereka.
5. Berbuat baik kepada mereka sepanjang hidupnya.
6. Berterima kasih kepada mereka.
5. Akhlak Terhadap Masyarakat

Akhlak terhadap masyarakat antara lain :

1. Memuliakan tamu
2. Menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
3. Saling menolong dalam melakukan kebajikan takwa.
4. Menganjurkan anggota masyarakat berbuat baik dan mencegah perbuatan jahat.
5. Memberi makan fakir miskin.
6. Bermusyawarah dalam segala urusan kepentingan bersama.
7. Menunaikan amanah yang telah diberikan oleh masyarakat kepada kita.
8. Menepati janji.

Akhlak Terhadap Tetangga

Akhlak terhadap tetangga merupakan perilaku yang terpuji. Berbuat baik kepada tetangga sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam sebagaimana sabda Rasulullah :

“Kalau ia ingin meminjam hendaklah engkau pinjamkan, kalau ia minta tolong hendaklah engkau tolong, kalau ia sakit hendaklah engkau rawat, kalau ia ada keperluan hendaklah engkau beri bantuan, kalau ia mendapat kesenangan hendaklah engkau beri ucapan selamat, kalau ia dapat kesusahan hendaklah engkau hibur, kalau ia meninggal hendaklah engkau antarkan jenazahnya.

Janganlah engkau bangun rumah lebih tinggi dari rumahnya dan janganlah engkau susahkan ia dengan bau masakanmu kecuali engkau hadiahkan kepadanya, dan kalau tidak engkau beri bawalah masuk kedalam rumahmu dengan sembunyi, dan jangan engkau beri anakmu bawa keluar buah-buahan itu, kecuali nanti anaknya inginkan buahan itu. ( H.R. Abu Syaikh )

Dengan pernyataan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam diatas menunjukkan kepada kita bahwa orang muslim sangat dianjurkan untuk berbuat baik terhadap tetangganya. 

Orang yang selalu berbuat baik terhadap tetangganya berarti dia telah menjalankan perintah rasulullah. Sebagaimana sabdanya: 

“Man aamana billaahi walyaumil aakhiri falyukrim jaarahu” (HR. Bukhari).

Artinya: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakantetangganya.

Rasulullah menganjurkan ummatnya untuk berbuat baik dalam gerak gerik atau perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari, berakhlak mulia dalam bertindak melakukan sesuatu.

Terutama yang menyangkut hubungan dengan Allah sebagai pencipta alam semesta termasuk kita sebagai manusia. 

Kedua hubungan sesama manusia terutama hubungan dengan Rasulullah sebagai orang yang telah membimbing kita kejalan yang benar untuk menyembah Tuhan Yang Esa. 

Ketiga hubungan dengan alam semesta serta lingkungannya. Keempat hubungan manusia dengan diri sendiri. 

Akhlak dan etika merupakan pendidikan dasar yang harus diberikan dan dibina dengan kepada anak didik kita agar anak-anak terbiasa melakukan hal-hal yang baik, sopan santun dalam bergaul, terutama terhadap kedua orang tua, terhadap teman sebaya, juga terhadap para tetangga. 

Anak-anak kalau sudah dibiasakan diwaktu kecil dalam perilaku seharihari insya Allah akan terbawa dan terbiasa bila sudah dewasa nanti. 

Kalau anak berakhlak mulia kemana dia pergi dan dengan siapa mereka bergaul akan diterima dan disenangi oleh orang disekitarnya dalam kehidupan sehari-hari. 

Oleh karena itu didiklah anakmu kejalan yang benar dan berlaku baik terhadap mereka, berakhlak dan beretika menurut norma adat istiadat yang berlaku didalam masyarakat kita.

0 Response to "AKHLAK DAN ETIKA DALAM ISLAM"

Post a Comment

Terima Kasih Atas Kunjungannya, Silahkan Berkomentar dengan Bijak