Pengertian Iman

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa ta'ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam keluarga sahabat dan para pengikutnya yang setia dan istiqamah

Berbicara tentang iman, tentu berbicara tentang keyakinan. Maka secara mutlak orientasi pembahasan dititik beratkan pada jiwa seseorang atau lazimnya di sebut “qalbu”. 

Hati merupakan pusat dari satu keyakinan, kita semua sepakat bahwa dalam diri manusia terdapat dua unsur pokok kejadian, terbentuknya jazad dan rohani, 

Apabila keduanya pincang atau salah satu di antaranya kurang, maka secara mutlak tidak mungkin terbentuk makhluk yang bernama manusia.

Iman menurut bahasa adalah membenarkan dengan hati atau percaya, sedangkan menurut syara’ iman itu bukanlah suatu angan-angan akan tetapi apa yang telah mantap dalam hati dan dibuktikan lewat amal perbuatan. Hal ini tercermin dalam salah satu hadis Nabi yang berikut ini:

Terjemahnya:

“Iman itu bukanlah dengan angan-angan tetapi apa yang telah menetap di dalam hatimu dan dibuktikan kebenarannya dengan amal”.

Dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia dikatakan bahwa:

“Iman secara bahasa berasal dari kata anamah yang berarti menganugrahkan rasa aman dan ketentraman, dan yang kedua masuk ke dalam suasana aman dan tentram, 

Pengertian pertama ditunjukkan kepada Tuhan, karena itu salah satu sifat Tuhan yakni, al-Makmun, yaitu Maha Memberi keamanan dan ketentraman kepada manusia melalui agama yang diturunkan melalui Nabi. 

Pengertian kedua dikaitkan dengan manusia. Seorang mukmin (orang yang beriman) adalah mereka memasuki dalam suasana aman dan tentram menerima prinsip yang telah ditetapkan Tuhan”.

Dari beberapa keterangan di atas, maka dapatlah ditarik sebuah kesimpulan sebagai bahan referensi bahwa pengertian iman adalah keyakinan yang kuat dan kepercayaan penuh terhadap suatu subjek, gagasan dan doktrin. 

Dengan kata lain, tidaklah sempurna iman seseorang kalau hanya menyakini dengan hati tanpa dibarengi dengan amal perbuatan.

Sedangkan menurut Istilah, Ali Mustafa al-Ghuraby menyatakan:

“Sesungguhnya Iman itu adalah ma’rifah dan pengakuan kepada Allah subhanahu wa ta'ala Dan Rasul-Rasul-Nya (atas mereka keselematan)".

Dan Menurut Jumhur Ulama yang dikemukakan oleh al-Kalabadzy:

”Iman itu adalah perkataan, perbuatan dan niat, dan arti niat adalah pembenaran".

Dari definisi bahasa dan istilah diatas. maka dipahami bahwa para pakar sepakat bahwa iman adalah pembenaran dengan hati. 

Adapaun mengenai ucapan dan pengamalan anggota badan, maka sebagian ulama memasukkannya sebagian dari pada iman sedang lainnya menempatkan sebagai kelengkapan saja.

Ketika Iman Sudah Mulai Usang

Al-Hakim dan Ath-Thabarani meriwayatkan bahwa Nabi Rasulillahi shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلُقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلُقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِكُمْ

“Sesungguhnya iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh seseorang dari kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka memohonlah kepada Allah supaya memperbarui iman di hati kalian!”

Di dalam hadits lain beliau Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

“Tidak ada satu hati pun kecuali di sana ada mendungnya, seperti mendung yang menutupi rembulan. Jika saat rembulan bercahaya, tiba-tiba mendung menutupinya, maka gelaplah. Dan jika mendung itu menyingkir darinya rembulan pun bercahaya (lagi).”

Sesungguhnya menjaga iman dan memperbaruinya adalah penjagaan dengan izin Allah dari banyak penyakit hati. Futur adalah salah satunya. 

Karena itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah senantiasa menjaga iman dan memperbaruinya. Sehubungan dengan ini Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا …

“Wahai orang yang beriman!” (QS. Al-Baqarah [2]: 104).

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’rāf [7]: 201)

Dari sinilah iman akan bertambah dan terjaga.

لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ…

“… untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath [48]: 4)

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا…

“Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya.” (QS. At-Taubah [9]: 124)

Di antara perkara yang dapat menambah iman adalah memperbanyak amalan, menjaga shalat sunnah rawatib, menjaga qiyamullail dan shalat tahajjud, serta tidak meninggalkan shalat witir, baik di saat bermukim maupun saat bepergian. 

Begitu pula dengan puasa sunnah, dahaga di siang hari, dari tidak menyia-nyiakan hari-hari yang utama untuk diisi dengan puasa sunnah.

Termasuk juga dapat menambah iman adalah bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, mempererat tali silaturahmi, berbakti kepada orang tua, serta berbaik hati, berbuat baik, dan mempedulikan fakir miskin dan anak yatim. Tidak ketinggalan pelaksanaa umrah, haji, bersegera ke masjid dan i’tikaf.

Ibadah-ibadah ini memberi energi iman bagi seorang mukmin. Ia dapat menjadi bekal di perjalanan. Ia pun dapat meringankan musibah dan memudahkan kesulitan. 

Adalah Rasulullah Rasulillahi shallaallaahu ‘alaihi wa sallam jika dilanda suatu kesulitan, sesegera mungkin beliau mengerjakan shalat. Beliau pernah bersabda,

يا بلال أقم الصلاة ، أرحنا بها

“Mari kita beristirahat dengan shalat, wahai Bilal.” 

Demikian Pengertian Iman. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita. Terima kasih atas kunjungannya.

0 Response to "Pengertian Iman"

Post a Comment

Terima Kasih Atas Kunjungannya, Silahkan Berkomentar dengan Bijak