Menahan marah

Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.


Menahan marah

Tak ada satupun ajaran Islam yang tak bermuara pada kebaikan dan kemaslahatan. Salah satu maqoshid atau tujuan terbesar syari'at Islam yang sempurna ini di setiap aspek kehidupan adalah; mencegah, menghilangkan, atau meminimalisir keburukan dan kemudaratan.

Artinya, saat ajaran Islam sesederhana apapun itu dalam pandangan manusia dipraktekkan, pasti ada kemaslahatan yang akan timbul, atau pasti ada kemudaratan yang bisa hilang atau paling tidak terminimalisir. 

Salah satu contohnya adalah ajaran #akhlak mulia yang satu ini; "Kazhmul Ghaizh" (mengekang amarah).

Allah berfirman:

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan, ( QS. 03:134)

Ternyata para Neurologis (ahli saraf) memaparkan fakta yang menarik terkait orang yang berupaya menahan amarahnya. Mereka mengatakan;

"Setiap kali kamu menahan amarah, kamu sebenarnya sedang meregenerasi otakmu yang bakal membantumu--untuk jadi lebih tenang dan penuh kasih".

Ini baru sebagian kecil manfaat menahan amarah.

Di samping kita juga memaklumi bersama, betapa besar kemudaratan yang bisa terjadi jika amarah tak terkendali, betapa banyak penyesalan tak berujung yang dihasilkannya. Karena itulah, menahan amarah menjadi ajaran akhlak mulia dalam Islam.

- Ust. Johan Saputra Halim - 

Jadilah bermanfaat Sallam bahagia Sukses Dunia Akhirat 

0 Response to "Menahan marah"

Post a Comment

Terima Kasih Atas Kunjungannya, Silahkan Berkomentar dengan Bijak