Kisah ; Allah Memelihara Rasul-Nya

Bismillahirrahmanirrahim. Tiada untaian kata yang pantas diucapkan seorang hamba dan syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta'ala, semoga rahmat dan karunia-Nya selalu menyertai setiap langkah-langkah kita dalam penghambaan kepada-Nya. 

Tak lupa pula, shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada manusia paling mulia, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya yang selalu istiqamah dalam menjalankan risalahnya hingga akhir zaman.

Allah Memelihara Rasul-Nya 

Suatu hari dua pemuka kafir Quraisy duduk  berbincang-bincang di samping Ka‘bah. 

Mereka adalah Shafwan ibn Umayyah dan Umair ibn Wahab. Dengan sangat hati-hati Shafwan berkata, 

“Hai Umair,  Muhammad telah membunuh ayah, paman, dan saudara  kita dalam Perang Badar. Apakah kau siap pergi ke  Madinah dan membunuhnya?” 

“Aku ingin melakukannya, tetapi bagaimana dengan keluargaku jika aku mati atau tertangkap?” tanya Umair bimbang. 

“Tenang saja. Demi Latta dan Uzza, akulah yang akan menjaga anak-anak dan keluargamu. Aku akan memenuhi kebutuhan mereka. Aku binasa jika mereka  binasa. 

Darah mereka adalah darahku. Hidup mereka adalah hidupku. Begitu juga mati mereka adalah matiku,”  sumpah Shafwan. 

Umair berkata, “Baiklah kalau begitu, aku siap membunuhnya. Besok aku akan pergi ke Madinah. Aku minta, jangan bocorkan rencana ini kepada siapa pun. Hanya kita berdua yang tahu.” 

“Ya, aku tidak akan mengatakannya kepada siapa  pun.” 

Setelah bersepakat dan berjabat tangan, Umair beranjak pergi meninggalkan Shafwan. Ia segera mempersiapkan hewan tunggangan dan perbekalan untuk pergi ke Madinah. 

Tidak lupa, ia baluri pedangnya  dengan racun yang mematikan hingga pedang yang  mengilap itu berubah warna menjadi abu-abu kehitaman. 

Keesokan harinya, Umair pergi ke Madinah untuk melampiaskan dendamnya yang membara. Ia akan mencari Muhammad dan menebaskan pedangnya ke tubuh beliau. Tentu saja tidak tebersit sedikit pun dalam pikirannya bahwa Allah bersama hamba-Nya yang  beriman dan bertakwa. 

Ia sama sekali tidak tahu bahwa saat keduanya merundingkan rencana jahat itu, Allah Subhanahu wa ta'ala mewahyukan  kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam tentang apa yang mereka  rencanakan di samping Ka‘bah. 

Setelah menempuh perjalanan jauh yang melelahkan, Umair tiba di Madinah. Tanpa buang waktu, ia segera mencari-cari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, tak sabar untuk segera  menebaskan pedang beracunnya pada tubuh beliau. 

Setelah berkeliling ke sana kemari dan tidak menemukan Rasulullah, Umair berjalan menuju Masjid Nabawi.  

Namun, Umar ibn Khaththab melihatnya dan mencurigai  gerak-geriknya sehingga ia langsung menghunus pedangnya dan menghadang Umair. 

Umar menanyai maksud kedatangannya ke Madinah. Karena gerak-gerik dan jawabannya mencurigakan, Umar  meringkus dan menyeretnya ke hadapan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam  yang tengah berada di masjid. 

Rasulullah bertanya menyelidik, “Hai Umair, apa  tujuanmu datang ke sini?” 

“Aku datang untuk menebus kerabatku yang tertangkap dalam Perang Badar,” kilahnya. 

“Kamu dusta! Sepuluh hari yang lalu kau dan  Shafwan duduk di samping Ka‘bah merencanakan keburukan terhadapku. 

Shafwan berkata kepadamu begini dan begini. Kau bilang kepadanya anu dan anu.  Aku tahu, saat ini kau datang untuk membunuhku! Sungguh, Allah tidak akan menguasakanmu untuk membunuhku.” 

Tentu saja Umair terkesiap mendengar ucapan Rasulullah. Sebab, rencana mereka itu sangat rahasia. Hanya ia dan Shafwan yang mengetahuinya.  

Umair bertanya, “Dari mana engkau mengetahui kejadian yang sebenarnya antara aku dan Shafwan?” “Allah Yang Mahatahu telah mengabarkannya  kepadaku,” jawab Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam 

Sadarlah Umair bahwa Muhammad benar-benar utusan Allah. Maka, tanpa ragu lagi ia mengucapkan dua kalimat syahadat: 

“Asyhadu an lâ ilâha illallâh, wa  asyhadu annaka Rasûlullâh! (Aku bersaksi bahwa tidak  ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau  adalah utusan Allah.”  

Kelak, beberapa tahun kemudian, Shafwan ibn Umayyah pun memeluk Islam. 

Kisahnya bermula ketika ia dan Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam melihat-lihat pampasan perang  berupa binatang ternak. 

Shafwan memandangi ternak (ganimah) yang memenuhi celah bukit. Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam memperhatikannya, lalu bertanya, 

“Hai Abu Wahab, sepertinya kau sangat takjub melihat hewan ternak yang  memenuhi celah bukit itu?”  

“Ya.” 

Maka, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam berkata, “Seluruh ternak itu  untukmu beserta apa yang ada di celah bukit itu.” 

Mendengar ujaran Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, kontan saja Shafwan  merasa senang bukan kepalang, lalu berkata, 

“Tidak  mungkin seseorang memberikan (harta) sebanyak ini, kecuali seorang Nabi. Aku bersaksi, tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah  hamba dan Rasul-Nya.”



0 Response to "Kisah ; Allah Memelihara Rasul-Nya "

Post a Comment

Terima Kasih Atas Kunjungannya, Silahkan Berkomentar dengan Bijak